Kaum Muslim Menjadi Berbahaya Di India Karena PM Modi

Kaum Muslim Menjadi Berbahaya Di India Karena PM Modi

Bulan kemudian, bunda kota India, New Delhi, hadapi kekerasan komunal yang mematok minoritas agama terburuk dalam lebih dari 30 tahun. Terdaftar paling tidak 43 korban berpulang serta area bagian timur laut Delhi diisolasi.

Semacam lazim, sehabis kejadian kekerasan kepada minoritas di India, Kesatu Menteri Narendra Modi menjawab dengan bungkam sebagian hari. Kesimpulannya dalam posting di Twitter, beliau berkata, “perdamaian serta keseimbangan merupakan pusat etos kita” serta berharap “perdamaian serta perkerabatan tiap dikala”.

Tetapi, di dasar rezim Modi, etos India merupakan Hindu, serta perdamaian serta perkerabatan meminta golongan minoritas agama buat ketahui diri. Patriotisme Hindu sejenis inilah yang menimbulkan serbuan kepada pemeluk Islam, rumah mereka, sekolah serta tempat ibadah mereka.

Bentuk Gujarat Yang Dibawa Ke Tingkatan Nasional

Modi tersaring pada 2014 dengan akad kalau ia hendak bawa “bentuk Gujarat”: tingkatan perkembangan besar yang didorong oleh manufaktur yang dipandu zona swasta buat jadi kelebihan nasional.

Tetapi bentuk Gujarat pula mengaitkan kuatnya politik populis kapak kanan yang bengis, yang berusaha menghasilkan serta mengangkut kebanyakan Hindu dari populasi yang beraneka ragam dengan cara sosial serta ekonomi buat jadi dasar suara untuk Partai Bharatiya Janata (BJP) kepunyaan Modi.

Strategi ini tergantung pada invensi kompetitor bersama, ialah golongan Mukmin serta bebas sekuler. Strategi ini pula mengaitkan pemakaian kekerasan dengan cara penting buat mempolarisasi warga di daerah-daerah yang tempat BJP mengalami kompetisi penentuan yang sangat kencang.

Komentator sudah mengingatkan kalau walaupun Modi kelihatannya mengadopsi fokus teknokratis pada rezim serta pembangunan sepanjang kampanye pemilu, tetapi kampanye politik populis pecah-belah kapak kanan meluap pas di dasar dataran serta hendak meletup bila BJP berdaulat.

Dengan penghadapan yang sudah bertambah sepanjang 6 tahun terakhir, para komentator teruji betul.

Kalangan Mukmin serta Dalit sudah jadi sasaran penyerangan serta pembantaian oleh para penggerak Hindu atas julukan proteksi lembu suatu yang sudah lama jadi atensi patriot Hindu.

Para mahasiswa, penggerak, politikus antagonisme serta pengunjuk rasa yang menantang penguasa sudah didakwa dengan hasutan ataupun acuman buat melaksanakan kekerasan.

Pendeta Adityanath, seseorang biksu Hindu agresif, pula ditunjuk selaku pimpinan menteri negeri bagian terbanyak (sebanding dengan gubernur) di India, Uttar Pradesh.

Semenjak diseleksi kembali pada Mei dengan suara yang lebih besar, rezim Modi sudah mengklaim amanat buat penuhi desakan patriot Hindu yang sudah lama terdapat buat terus menjadi menepikan minoritas di India.

Hukum Amandemen Kebangsaan Serta Catatan Masyarakat Negeri Nasional

Hukum Amandemen Kebangsaan (CAA) merupakan salah satu dari desakan patriot Hindu.

Hukum ini itu melanggar antusias non-diskriminatif konstitusi India dengan memesatkan permisi buat banyak orang Hindu, Parsis, Jain, Buddha, Sikh, serta Kristen yang terzalimi di Bangladesh, Pakistan serta Afghanistan buat mendapatkan kebangsaan, tetapi tidak legal buat kalangan Mukmin.

Rezim Modi pula sudah menjanjikan Catatan Masyarakat Nasional (NRC) yang hendak mewajibkan orang India buat membagikan fakta akta mengenai kebangsaan mereka.

Ketentuan ini sudah dicoba di negeri bagian Assam, serta berakibat amat kurang baik. Dekat 1,9 juta orang Assam diklaim bukan masyarakat negeri India serta saat ini wajib lewat cara memadankan yang jauh di majelis hukum spesial yang tidak berjalan bagus.

Golongan hak asas orang mengatakan usulan NRC selaku aksi anti-orang miskin. Mukmin India khawatir penguasa pula hendak merampas kebangsaan serta hak konstitusional mereka.

Skedul bersama CAA-NRC dari rezim Modi sudah menggerakkan jutaan orang India ke dalam keluhan rukun di semua negara, yang membuktikan antusias perlawanan beramai-ramai terbanyak semenjak aksi kebebasan India pada 1940- an.

Keluhan sangat kokoh sudah dipandu oleh wanita Muslim suatu peristiwa awal dalam asal usul India- di wilayah Shaheen Bagh Delhi. Para pengunjuk rasa sudah menaiki ruang khalayak di mari sepanjang 2 separuh bulan, menantang dinginnya masa dingin di India utara.

Demo Shaheen Bagh pula sudah mengilhami lebih dari seratus muncul rasa permanen yang lain yang dipandu oleh wanita di semua India.

Retorika Membidik Pada Kekerasan

Kekerasan pada bulan kemudian di New Delhi merupakan akibat dari kampanye pemerintahan yang berdaulat melawan muncul rasa.

Kampanye ini bertambah sepanjang kampanye penentuan BJP kala partai mengerahkan sokongan khalayak mengancam para pengunjuk rasa dengan dakwaan mengobarkan kekerasan serta mengusik kedisiplinan biasa.

Adityanath, biarawan Hindu agresif di Uttar Paddesh, dikala berangkat ke Delhi buat mendulang suara berkata kalau para pengunjuk rasa wajib diberi makan “timah panas”. Anurag Thakur, seseorang badan parlemen BJP serta menteri negeri, menyorakkan “bertembakan para pengkhianat” pada suatu pentas penentuan merujuk pada para pengujuk rasa.

Peristiwa ini diiringi oleh 2 kejadian penembakan kepada anak didik serta pengunjuk rasa oleh individu-individu yang diidentifikasi selaku pendukung Modi.

Walaupun takluk keseluruhan dalam penentuan Delhi, para atasan BJP sudah meneruskan kampanye penghadapan mereka dalam perencanaan buat penentuan kelak.

Kekerasan bulan kemudian dipicu kala para atasan serta pendukung BJP dimobilisasi buat membagi muncul rasa kepada CAA serta NRC di Delhi.

Bukan bertepatan, kekerasan itu terfokus dalam penentuan yang amat hebat, kala para atasan BJP menekan para pemilih buat membuktikan amarah mereka kepada para wanita Shaheen Bagh dengan memilah BJP itu.

Pelakon ceramah dendam yang mengakibatkan kekerasan, atasan BJP Kapil Mishra, lalu membuat statment evokatif kepada rival. Polisi, yang dituduh hirau serta ikut serta dalam kekerasan, belum menuntutnya serupa banget.